Adzan subuh belum mampu menegakkan badan Vicino (7,10) untuk bergerak mengambil air wudhu dan melanjutkan untuk menegakkan shalat. Saya menghampirinya untuk membangunkan dan mengajak shalat subuh bersama. Namun ia masih terlelap dalam buaian mimpi dan akhirnya saya shalat sendiri. Hari ini adalah hari kedua bagi Vici bersekolah namun dalam keadaan yang tak lazim seperti tahun lalu. Hari pertamanya dilalui dengan suka cita karena ia telah menyandang status pelajar Sekolah Dasar (SD).
Penantian selama satu tahun untuk bersekolah yang tertunda dikarenakan Vici bukanlah warga Jakarta dan umurnya pun masih terpaut beberapa bulan dibanding calon pelajar lain yang sama-sama warga pendatang. Teman sebayanya telah menikmati bagaimana rasanya menjadi pelajar SD setahun yang lalu. Hal ini yang menjadi semangat baginya untuk bersekolah, berkumpul dengan teman sepermainannya dalam satu lingkungan persekolahan yang sama.
Kegiatan persekolahan pertama diharuskan untuk mengenakan seragam putih-merah. Saat ini memang Vici belum memiliki seragam, dengan pemikiran toh kegiatan belajar mengajar masih dilakukan jarak jauh dengan bantuan alat komunikasi dan aplikasi whatsapp sebagai tatap muka. Kala itu Vici mengenakan seragam putih-putih, seragam milik kakaknya, Vero (8), yang kini berada di kelas 2.
Perkenalan, Vici diharuskan membuat video perkenalan yang dibantu oleh Mommynya. Lebih dari 10 kali Mommy melakukan pengambilan video tersebut. Vici selalu terbalik menyebutkan nama lengkap dan nama panggilannya.
"Hai, nama saya Vici, panggilannya Vittoria Vicino" terbayang mommynya yang geregatan dan kemungkinan besar meninggikan nada ketika meluruskan apa yang seharusnya diucapkan.
Selamat bersekolah nak, semoga engkau memahami apa yang tengah engkau jalani.